Edit Me...

Albert Einstein

"Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking."

Alexander Graham Bell

"A man, as a general rule, owes very little to what he is born with - a man is what he makes of himself. "

Abraham Lincoln

"I destroy my enemies when I make them my friends."

Chelsea F.C.

Chelsea Football Club is an English football club based in Fulham, London. Founded in 1905, they play in the Premier League and have spent most of their history in the top tier of English football. Their home is the 41,837-seat Stamford Bridge stadium, where they have played since their establishment. Since 2003 they have been owned by Russian billionaire Roman Abramovich.

Farewell Didier Drogba!

Chelsea Football Club can confirm Didier Drogba will be leaving the club when his contract expires at the end of June. Didier has spent eight years at Chelsea, and everyone at the club would like to thank him for his service and wish him luck and continued success for the future.

Saturday, March 14, 2015

Late Post: London Part 1



Dear my friends,

Ini postingan yang tersimpan pada tahun lalu dan belum selesai juga, untuk menjawab penasaran akan cerita saya. Berikut jurnal hari-hari impian khas saya dan mohon maklum, tulisannya tidak begitu WOW, tapi pengalaman saya bisa dibilang WOW;


Selasa, 27 Mei 2014

Tiba di Heathrow Airport, London-UK pada jam 18.40 kemudian dijemput Bapak Fadjar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di London. Setelah dijemput, kami diantar ke Bali-Bali Restaurant (Indonesian-Malaysia-Thai Cuisine) yang terletak di Shaftesbury Avenue, London. Saya sendiri disajikan nasi goring spesial dan disuguhi dengan air mineral khas London. Setelah itu, kami diantar oleh Bapak Fadjar serta supir ke tempat yang akan kita inap di Travelodge Vauxhall. Proses untuk mencapai tujuan, kami sempat melewati Big Ben, Istana Ratu, dan Tower Bridge.

Rabu, 28 Mei 2014

Pada pagi hari, kami melakukan sarapan di hotel Travelodge Vauxhall. Sayangnya, sarapan bagi begitu kurang memuaskan. Pada bersamaan waktu itu, ada anggota Leonard Cheshire Disability dari India, dan Filipina yang baru kami temui dan memperkenalkan kami masing-masing begitu juga dengan mereka. Kemudian kami berjalan kaki ke kantor Leonard Cheshire Disability dimana lokasinya dekat dengan tempat penginapan kami, Hotel Travelodge Vauxhall. Setelah tiba di sana, kami bertemu anggota Leonard Cheshire Young Voices dari berbagai Negara seperti, Kenya, Tanzania, dan Zambia serta staff dari Leonard Cheshire Disability. Meeting tersebut dimulai oleh Mahesh Chandrasekar dan masing-masing anggota LCD YV dari berbagai negara memperkenalkan diri kemudian Jane Harris mempresentasikan tentang “How to Campaign” (pptx. Terlampir). Meeting tersebut menjelaskan bagaimana melakukan kampanye untuk hak-hak penyandang disabilitas dan memastikan akan benefit dari kampanye. Setelah acaranya selesai, kami makan siang dengan menu pizza, dan ke tempat untuk breakcoffe/lunch. Kami masing-masing ngobrol tentang pengalaman kami seperti saya dengan anak tuli dari Kenya membahas tentang pengalaman serta kondisi negaranya mengenai Tuli. Dan beberapa kali orang penting datang seperti penanggungjawab acara LCD di Istana, pencari donator dll. untuk mengetahui lebih dalam mengenai anggota LCD YV dari berbagai macam Negara. Dan tepatnya selesai pertemuan dengan stakeholder, seluruh anggota LCD YV diminta untuk melakukan wawancara sambil direkam sebagai dokumentasi untuk LCD. Waktu perekeman memakan waktu sejam untuk seluruh anggota Leonard Cheshire. Tidak lama kemudian, Mahesh mengajak seluruh anggota LCD YV untuk melakukan sightseeing di sekitar Vauxhall kemudian makan malam di Riverside dan kembali ke Hotel masing-masing.

Kamis, 29 Mei 2014

 Pada pagi hari, kami keluar hotel untuk mengenal Vauxhall, bagian kota dari London. Mengunjungi Vauxhall Park merupakan sebuah taman yang penuh rumput serta tempat bermain dan sebagainya. Setelah 2 jam mengenal Vauxhall, kami ke kantor LCD kemudian menunggu Nick untuk berangkat bersama bertemu guru tuli di Kingston. Saya dan Nick mengobrol dengan guru tuli bernama Rebecca.
Meeting dengan Rebecca Smith, berikut rangkuman tentang pendidikan yang disampaikan Rebecca.
1. Mengajarkan bahasa isyarat kepada anak-anak tuli mulai dari umur 18 bulan
2. Ketika bayi lahir dapat dideteksi dengan newborn hearing screening program
3. Kelas untuk anak-anak tuli maksimal 8 murid.
4. Bahasa isyarat perlu dididik/ditanamkan pada usia anak muda guna mengembangkan kognitif sehingga dapat membantu dalam mengembangkan kebendarahaan bahasa (Bilingualism)
5. Sekolah sulit menerima jika pilihan orangtua untuk anak adalah oralism
6. Jika gagal di sekolah umum, dapat masuk sekolah tuli dengan syarat mau belajar bahasa isyarat.
Kemudian dijemput oleh Bapak Fadjar, Bu Santi, Mba Dhani & Supir dan menuju ke stadion Chelsea yang merupakan tim paling ingin saya kunjungi sejak lama. Disana saya foto-foto dan membeli merchandise Chelsea. Tidak lama, kita sudah harus kembali ke LCD untuk briefing sebagai persiapan bertemu Ratu dan Pangeran Phillip. Sebelum ke LCD, kami harus ganti pakaian untuk acara spesial tersebut.

Istana James
Setelah sampai di istana, kami diminta untuk menyerahkan barang-barang yang kami bawa seperti dompet, HP, tas dan sebagainya tanpa pengecualian. Di dalam acara tersebut penuh orang-orang seperti perwakilan dari organisasi-organisasi, NGO dan stakeholder, masing-masing kami berbincang satu sama lain. Tidak lama kemudian, kami diminta untuk berdiri dalam posisi melingkar guna menyambut ratu dan pangerang phillip. Di depan kami terdapat orang-orang Inggris terutama pekerja di BBC yang juga salah satu penyandang disabilitas. Masing-masing orang dihampiri dan kami hanya ditanya oleh pangeran Phillip mengenai asal negara kami. Dan kami pun tidak diberi kesempatan untuk berbincang. Setelah kepulangan ratu dan pangeran, kami memasuki ruang makan untuk dinner. Posisi kursi sudah diaturkan siapa yang duduk disana disini dan di samping kiri saya adalah seorang kakek dan tidak lama kemudian seorang kakek mencari secarik kertas dan menulis tentang darimana kah asal kami kemudian saya membalas. Di selang percakapan, kami saling menceritakan tentang situasi di Indonesia seperti apa terutama disabilitas khususnya tuli. 

 Jumat. 30 Mei 2014

Pada jam 6 pagi, saya membereskan barang untuk melanjutkan trip ke Preston. Dijemput Nick di depan Travelodge, kemudian kami meneruskan perjalanan menuju stasiun Vauxhall. Setelah itu saya mendapatkan hal yang menarik yaitu di dalam kereta underground terdapat lampu tanda pintu tutup (berkedip-kedip sebagai peringatan akan tutup). Saat di kereta, saya hanya berdiri karena isi kereta sangat penuh. Setelah sampai stasiun London Euston kalau tidak salah ingat, kemudian transit ke kereta (overground) menuju preston. Memakan waktu kurang lebih 3 jam sampai di Preston dari London.



Wednesday, November 20, 2013

Global IT Challenges for Youth with Disabilities

Kesempatan adalah kesempatan. Tidak terkecuali semua orang pasti mendapatkan kesempatan yang tidak bisa diabaikan termasuk saya. Terpilihnya untuk mewakili Young Voices Indonesia dalam ajang kompetisi IT adalah sebuah prestasi untuk saya. Walaupun sempat terjadi keraguan karena persiapan, umur dan sekolah, akhirnya saya diizinkan untuk berangkat ke Bangkok, Thailand. Padahal hari keberangkatan saya adalah hari ujian tengah semester. Saya tahu kesempatan itu adalah bagus untuk saya tetapi juga untuk keluarga saya, keluarga besar Young Voices dan juga teman-teman.

 Saya terpilih bersama Alam (salah satu tuna rungu dari Bambu Apus) dan Bu Ema sebagai pendamping. Pada hari Senin 7 Oktober 2013, kami berangkat ke Bangkok pukul 5 sore naik pesawat Garuda Indonesia. Setelah tiba disana pukul 11 malam, kami menunggu kedatangan peserta lainnya kemudian diantar oleh panitia dengan bis ke Montien Riverside Hotel. Karena sudah terlalu malam, kami tidak sempat berkenalan dengan peserta lain.

 Pada hari pertama, tepatnya pukul 07.00 pagi saya dengan Alam dan Bu Ema melakukan sarapan terlebih dahulu dengan peserta lainnya. Setelah itu, kami berkumpul di lobby dengan peserta lainnya untuk melakukan registrasi dan mendapatkan kit yang berisi sebuah buku panduan selama acara berlangsung seperti jadwal, peraturan dalam kompetisi IT dan sebagainya. Ada 20 negara peserta yang hadir dalam rangka Global IT Challenges for Youth with Disabilities. Dengan bersamaan waktu, kami memperkenalkan diri dengan peserta lain terutama peserta tuna rungu dari Negara lain seperti Filipina, Brunei, India dan Mongolia. Ternyata tidak lama kemudian saya begitu akrab terutama dengan peserta tuna rungu dari Brunei dan Filipina karena khususnya tuna rungu dari Brunei menggunakan komunikasi yang hampir sama dengan kondisi yang ada di Indonesia seperti baca bibir dan sebagainya, sedangkan tuna rungu dari Filipina juga menggunakan bahasa isyarat yang cukup familiar di Indonesia yaitu American Sign Language. Kami berpikir itu adalah sebuah keuntungan karena memiliki teman yang baru dari Negara lain, itu adalah hal yang jarang kami temui sebelumnya. Setelah berbincang dengan mereka, semua peserta termasuk kami diminta oleh panitia GITC naik bis rombongan kemudian berangkat ke United Nations Building (dimana kompetisi akan berlangsung) yang terletak di Rajadamnern Nok Avenue Bangkok. Dalam perjalanan ke United Nations Building memakan waktu sekitar 45 menit, karena kami sempat terjebak macet.

 Setelah tiba disana, kami harus melewati pemeriksaan keamanan terlebih dahulu kemudian berkumpul di Hall yang dipenuhi meja dengan komputer. Sebelum acara sesi orientasi dimulai, kami harus mencari tempat duduk yang sudah diatur. Kami berada di posisi paling depan/baris pertama dimana diperuntukkan untuk penyandang tuna rungu, baris kedua untuk penyandang tuna netra – gangguan mental/autism dan baris ketiga untuk penyandang tuna daksa. Acaranya dimulai oleh perwakilan Korea untuk penyambutan, perkenalan dan pengarahan. Setelah pengarahan, kami diberi latihan untuk melakukan upload dan download dokumen dengan web browser serta mengecek aplikasi-aplikasi lainnya yang akan digunakan untuk kompetisi nanti. Setelah itu, kami beristirahat kemudian makan siang di salah satu kafetari di dalam United Nations Building. Kami mempersiapkan diri untuk kompetisi kategori e-Tool Challenge.

 Mulainya kompetisi e-Tool Challenge, saya merasakan adanya ketegangan di antara kami karena ini adalah kali pertama kami untuk berkompetisi dengan peserta dari Negara lain. Dalam e-Tool Challenges, kami diminta untuk melakukan download sebuah file format .docx kemudian mengikuti instruksi yang ada di dalam file tersebut. Kami diminta untuk memodifikasi artikel yang bertema “Go Green” dalam waktu 45 menit. Pada awal kompetisi tersebut memang tidak berjalan lancar karena ada gangguan server sehingga sulit untuk di-download dan akhirnya bisa. Sesuai regulasi yang ada di buku panduan, kami tidak boleh mengganggu peserta lain dan tidak boleh keluar tanpa izin volunteer. Siapa yang melanggar regulasi tersebut, maka dialah akan didiskualifikasikan. Syukurlah, saya mengerjakan dan menyelesaikan kompetisi kategori E-Tool Challenge dengan lancar termasuk meng-upload file-nya. Setelah itu, kami kembali menuju ke hotel karena acara hari pertama sudah selesai.

 Ketika sampai disana, menurut jadwal yang ada di buku, setelah makan malam ada sesi “Cultural Exchange”. Pada sesi “Cultural Exchange”, kami hanya menonton nyanyian-nyanyian dari Korea dan Thailand, mengikuti sebuah permainan yaitu BINGO, menulis sebuah kertas tentang harapan untuk peserta lainnya dan pembagian seragam untuk hari besoknya. Acara tersebut berjalan lancar, dan kami pun menyukai makan malam karena makanannya sudah cukup familiar dan tidak berbeda jauh dengan makanan yang ada di Indonesia seperti nasi, seafood dan lainnya. Kemudian kami kembali ke kamar hotel masing-masing.

 Pada hari kedua Seperti biasa, pagi hari kami bersarapan di hotel kemudian berangkat ke United Nation Building untuk melanjutkan kompetisi kategori e-Life Challenge, e-Sport dan juga hari terakhir acara Global IT Challenges for Youth with Disabilities. Setelah sampai disana, kami melakukan check up pada komputer kami yang akan digunakan untuk kompetisi nanti. Setelah melakukan check up, kompetisi e-Life dimulai panitia memberikan password untuk membuka server. Kami langsung membuka server dan menjawab pertanyaan jumlah 20 soal serta menyisipkan referensi. Hanya 40 menit yang diberikan untuk menyelesaikan kompetisi e-Life. Setelah kompetisi e-Life selesai, kami diarahi inter session yang berisi sebuah demo e-Sport. Di dalam kompetisi e-Sport adalah memainkan sebuah game yaitu Tales Runner. Sayangnya, saya kalah dalam kompetisi tersebut. Kemudian, kami melanjutkan sesi berikutnya yaitu makan siang dan ceremony dimana pertunjukan yang akan ditampilkan oleh kelompok karate dan tarian khas Thailand. Pertunjukannya cukup menghibur dan kemudian dilanjutkan pembagian awards. Tidak disangka, ternyata saya meraih juara tiga kategori e-Tools / Good e-Tools dan mendapatkan sertifikat serta kamera pocket. Itu sudah melebihi harapan saya sebelumnya. Juara umum adah penyandang Tuna Netra dari Thailand dan predikat “Global Leader” dari penyandang Tuna Daksa dari Korea.

 Itu adalah sebuah kebanggaan untuk penyandang disabilitas khususnya di Indonesia bahwa kami mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi. Setelah foto bersama, kami langsung berangkat ke salah satu restoran yang terkenal di Bangkok dan kami pun menikmati makan malam disana. Kemudian kami balik ke hotel untuk berisitrahat karena hari besoknya ada sesi “Cultural Experience” dan hari terakhir kami di Bangkok. 



Pada hari Ketiga Kami melakukan sesi terakhir yaitu mengunjungi objek wisata yang ada di Bangkok seperti Teak Woode, dan Vimanmek Palace. Kami merasa takjub dengan objek wisata di Bangkok. Setelah mengelilingi tempatnya yang luar biasa, kami diantar ke Airport dan terbang kembali ke Indonesia. Starting a new chapter in life as PWD’s!

Friday, August 2, 2013

Tantangan untuk Berpengalaman




Seiringnya waktu berjalan, bertambahlah umur, berkembanglah wawasan dan tantangan yang kita harapkan dan tidak, telah mendatangi kita. Jika kita melakukan kesalahan, mungkin sebagian orang berharap bisa memutarkan waktu supaya kesalahan-kesalahan yang diterima bisa dihindari, dan kesalahan itu pun sirna karena "pengembalian waktu". Hanya mimpi kita bisa melakukan untuk memutarkan waktu, justru memutarkan waktu membuat hidup kita tidak berguna, tidak ada artinya dan kehilangan pengalaman yang tidak ternilai.

Sebagai contoh, saya kehilangan pendengaran sejak lahir. Bagaimana supaya saya terlahir normal? Andai saya bisa membuat hal itu terjadi yaitu melakukan "Sesuatu" agar saya terlahir normal, mungkin saya tidak ada disini untuk menulis. Mungkin kalian tahu apa yang kumaksud, di hidup kita memang ada istilah "Prediksi" tapi itu pun hanya jangka pendek. Perbedaan prediksi dan ramalan apa? Saya tidak tahu tentang dunia "Tebakan" itu, jadi saya tidak bisa membahas. Dan saya telah menerima pengalaman-pengalaman yang begitu beraneka ragam. Pengalaman positif membantu saya untuk lebih percaya diri sebagai manusia di dunia ini. Tetapi pengalaman yang negatif yang seharusnya tidak terjadi ternyata sangat membantu saya untuk belajar. Pengalaman negatif yang kita dapat sangat mendorong untuk kita maju dan melakukan hal-hal yang positif. Andai tidak ada "negative" dalam kehidupan kita, mungkin kehidupan kita hanya mengenal bahagia saja, membuat bosan dan mungkin waktu untuk tinggal di dunia pendek.

Pengalaman adalah awal dari tantangan, kita hidup mau tidak mau harus menghadapi tantangan. Tantangan apa? Sebenarnya tantangan banyak, intinya tantangan dalam kehidupan. Mungkin kita tidak tahu apa tantangan berikutnya yang akan kita hadapi. Tantangan bisa diartikan dengan pelajaran. Semakin sering kita berhadapan tantangan semakin bijak kita untuk menyikapi. Karena itu, kita harus belajar untuk menerima hasil akhirnya. Kadang hasil tidak memuaskan kita dan kadang hasil membuat kita puas. Karena pengalaman-pengalaman sudah merupakan faktor tantangan, jadi kita harus siap untuk menghadapi tantangan sehingga kita bisa mencerna pengalaman-pengalaman kemudian dijadikan eksperimen, renungan dan sebagainya agar bisa memberi "plus" dalam kehidupan kita untuk masa mendatang. Kita sudah seharusnya mensyukuri karena ada tantangan untuk berpengalaman.

Alasan penulisan: Mencoba untuk menuangkan pemikiran. Berharap tulisanku bisa dijadikan untuk bahan renungan saya. Jika ternyata tulisan ini membantu kalian, saya bersyukur dan terima kasih. Kalaupun ada yang merasa tidak sependapat, mohon maaf dan ditunggu kritikannya dan masukan.

Terima kasih,
Surya

Wednesday, July 24, 2013

Mimpi jadi nyata tapi belum sePENUHnya

Dalam kepala saya sudah penuh dengan ilmu, pengalaman, rasa haus akan impian, perencanaan dan sebagainya. Penuh? Bukan berarti saya akan berhenti sampai disini untuk belajar hanya karena penuh. Dalam hati berkata bahwa memang di dalam kepala saya sudah penuh, tetapi hati juga meminta saya untuk menata data-data di dalam kepala supaya rapi. Bagaimana? Iya memang tidak mudah untuk melakukan macam itu, karena saya sendiri orang pemalas, padahal hanya sebuah hal yang bisa membereskan data-data itu juga sembari meng-Upgrade ruang untuk menimbun ilmu, pengalaman dan segala lainnya yang bermakna positif. Berolahraga salah satunya adalah solusi yang kumaksud. Karenanya, membantu saya untuk mengaktifkan saraf dari ujung kepala sampai kaki agar bisa menciptakan sebuah tulisan macam paragraf ini. (Tidak penting) 



Ok, pasti kalian tahu bahwa apa kesukaan saya. Sepakbola? Iya, sepakbola adalah salah satu olahraga yang sudah menyatu jiwaku sejak saya berusia 10 tahun dimana Brazil menjuarai Piala Dunia ke-5. Kemudian semenjak piala dunia itu berakhir, secara tidak sengaja saya menyalakan di TV dengan bersamaan Marcel Desailly mengenakan baju biru yang memanjakan mataku, mencetak goal dan melakukan selebrasi layaknya memimpin. Karena biru, membuat saya penasaran apakah tim itu. Saya kan tidak bisa mendengar komentator untuk penyebutan apakah tim itu, hanya mendapatkan sekilas nama yaitu CHE. Karena terlalu penasaran, saya mencari sebuah Koran terbaru khususnya sepakbola, ternyata memang takdir bahwa Chelsea adalah klub paling kusayangi sampai akhir hayat. Ingat, sebelumnya penyuka MU tapi karena Beckham pindah, saya tidak tertarik menonton MU lagi apalagi masih sakit hati karena Sir Alex Ferguson melukai dahi Beckham. Sudahlah, masa sudah berlalu dan keyakinan saya menjadi 100% untuk setia mendukung Chelsea. 

 Ternyata belum lama lagi, ada sebuah berita di salah satu stasiun TV bahwa Chelsea dibeli pengusaha dari Rusia. Waktu itu, saya tidak mengerti apa maksud pembelian tim. Saya menyadari ada perubahan yaitu pembelian pemain baru dengan jumlah banyak seperti Geremi, Crespo, Glen Johnson, Joe Cole, Neil Sullivan, Alexis Smertin, Adrian Mutu, Juan Sebastian Veron, Damien Duff, Claude Makelele, Wayne Bridge, Scot Parker dan Petr Cech (Waktu itu sempat trial dan diminati oleh Claudio Ranieri (Pelatih Chelsea zaman itu), sayangnya tawaran pertama ditolak tetapi tawaran kedua diterima oleh Rennes pada bulan Februari, maka otomatis Cech tidak bisa jadi pindah karena bursa transfernya sudah tutup dan harus menunggu musim panas). Gianfranco Zola saat itu malah hengkang, saya sih biasa-biasa tetapi fans disana menurut Koran keberatan dan kesannya protes. Karena itu, melihat jumlah pemain baru maka terpikirlah bahwa Chelsea adalah favorit untuk juara. 

Sayangnya di liga Inggris gagal dan juga Liga Champions dimana dikalahkan Monaco yang berisi pemain berbakat macam Dado Prso (Mencetak goal ke gawang Marco Ambrosio pd leg 1), Fernando Morientes, Ludovic Giuly, Hugo Ibarra dan Jerome Rothen(On fire pada leg 2). Monaco akhirnya ke final dan dikalahkan tim asuhan JOSE MOURINHO. Ingat, saya lebih banyak nonton Liga Champions dibanding Liga Inggris, karena Real Madrid dimana Beckham bermain juga bertanding di ajang tersebut. Pada musim panas 2004, tanda-tanda Chelsa akan menjelma menjadi tim paling disegani di dunia karena hadirnya The Special One, Jose Mourinho yang telah memberikan gelar untuk Porto. 

Mulainya era Jose Mourinho sudah tidak perlu diceritakan karena saya yakin kalian tahu perjalanannya untuk meraih kesuksesan bersama Chelsea juga pengunduran diri pada tahun 2007). Maaf, saya tidak bisa menceritakan pada zaman itu karena cerita panjang. Tapi intinya, saya menceritakan momen dimana saya menjadi Trueblue aka Chelsea Fans. Bagaimana rasanya menjadi fans Chelsea? Menyesal? Kok menyesal, liat hasilnya dong dalam 1 dekade terakhir. So, I’m The Happy One. 

Ada sebuah kabar gembira untuk penggemar Chelsea di Indonesia. Tepatnya tanggal 23 Juli dimana Chelsea FC tiba di Jakarta, tidak lupa Jose Mourinho akhirnya kembali sebagai pelatih Chelsea kedua. Rasa bangga tidak dapat digambarkan karena kehadiran Daddy Jose Mourinho. Nanti malam, saya menonton Chelsea secara langsung di GBK. 

Itulah adalah sebuah mimpi menjadi kenyataan. Tetapi, seperti saya tulis pada judul “Mimpi jadi nyata tapi belum sePENUHnya”. Maksudnya? Iya, saya belum bisa menyentuh dan melihat secara langsung di Stamford Bridge (Stadion bersejarah) dan juga belum bertatapan muka secara langsung dengan Jose Mourinho, Roman Abramovich, Legenda dan Calon Legenda Chelsea lainnya. Ya Allah, kabulkanlah mimpi hamba-Mu! Amin. Keep The Blues Flag Flying High. 

Sunday, April 7, 2013

Peran Pemerintah Terhadap Hak-Hak Penyandang Disabilitas



Di bumi ini tidak ada yang sempurna termasuk kekurangan yang dimiliki oleh manusia. Disabilitas adalah salah satu bagian dari kekurangan tetapi bukan berarti harus membatas kehidupan orang-orang disabilitas untuk menjalankan hal-hal yang dinginkan. Sebelumnya, “penyandang cacat” biasanya ditunjukkan untuk orang-orang yang kehilangan fisik maupun psikis, tetapi karena kata penyandang cacat mengandung makna negatif, maka Komnas Ham menggelar “Diskusi Pakar Untuk Memilih Terminologi Pengganti Istilah Penyandang Cacat” pada 19 – 20 Maret 2010 di Jakarta dan berhasil menemukan dan menyepakati terminologi penyandang disabilitas sebagai pengganti istilah penyandang cacat. Kabar baik untuk penyandang disabilitas karena perubahan terminology tidak hanya sampai itu saja. Pada tanggal 18 Oktober 2011, pemerintah Indonesia meratifikasi UNCRPD, sudah merupakan kabar gembira bagi penyandang disabilitas yang kerap menemui diskriminasi. Sejak pengesahan UNCRPD ternyata belum cukup untuk menyadarkan di kalangan masyarakat terhadap isu-isu disabilitas maupun menyelesaikan masalah-masalah yang sering dialami penyandang disabilitas, diskriminasi adalah salah satu contoh.

 Tuli adalah bagian dari disabilitas berdasarkan budaya dan linguistik. Masalah-masalah yang sering melanda kepada siapa pun termasuk kaum Tuli terutama dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Pendidikan untuk Tuli ternyata tidak seperti kita harapkan. Dimulai dari TK sampai SMA khusus Tuli terdapat kekeliruan yaitu bahasa pengantar di kurikulum sekolah tidak ada bahasa yang dapat dipahami, bahasa asli yang biasanya digunakan oleh Tuli adalah BISINDO justru direndamkan dan digantikan bahasa isyarat hasil comotan dari bahasa isyarat Amerika kemudian dirombak untuk penambahan sistem-sistem bahasa, dan dikenal SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Sebagian besar pemerintah dalam bidang pendidikan luar biasa sepertinya cukup puas dengan sistem untuk Tuli yang ada di Indonesia, tetapi mereka tidak bisa meninjau bagaimana dan dimana hak-hak Orang Tuli, hak Tuli adalah menerima ilmu dengan layak dan tidak merasakan adanya penderitaan. Memaksakan mereka untuk mempelajari bahasa-bahasa yang bukan BISINDO yang memiliki kandungan bahasa alami yang telah dibentuk kaum Tuli sejak Indonesia merdeka bahkan sebelum merdeka. SIBI telah dibentuk sejak 1994 dan diakui sebagai bahasa pengantar sejak tahun pada tahun 2004. Ibarat kita menghapuskan atau menyingkirkan bahasa Indonesia menjadi bahasa asing. Walaupun BISINDO dinilai belum dapat memenuhi persyaratan sebagai bahasa pengantar, seharusnya didukung dan dikembangkan karena BISINDO satu-satu bahasa yang dapat dipahami oleh Orang Tuli. Pendidikan untuk Tuli juga tidak lepas dari genggaman BISINDO, mereka membutuhkan komunikasi berupa bahasa isyarat asli Indonesia. Itulah sebuah masalah untuk mereka, tidak hanya itu begitu juga diskriminasi yang mereka dapat yaitu sering mendapatkan cemoohan dari orang-orang mendengar karena mereka tidak bisa berbicara, tidak dapat memahami apa yang mereka katakan. Tidak hanya itu, terutama Orang Tuli yang telah menyelesaikan masa belajar atau mencari pengalaman di dunia kerja. Sebagian besar banyak berita kurang sedap yang didapatkan oleh Orang Tuli, yaitu mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang mereka lamar karena mereka memiliki kekurangan yaitu tidak bisa mendengar, itulah salah satu bagian diskriminasi. Padahal potensi dan bakat Orang Tuli tidak dapat dianggap remeh. Pendidikan untuk Tuli sangat penting untuk ditinjau karena menentukan masa depan mereka seperti pekerjaan, karier dan kehidupan mereka. Tidak hanya Orang Tuli saja yang mengalami masa-masa yang sulit, begitu juga penyandang tunanetra, tunagrahita, tunalaras, dan tunadaksa. Penyandang tunanetra juga pasti pernah mengalami masa masa sulit seperti diskriminas yang pernah dirasakan oleh mereka seperti ketika bepergian, jika selama di fasilitas umum kadang tidak dibantu atau didahulukan agar bisa menikmati layanan masyarakat, malah lebih kejam lagi sampai dipermainkan misalnya diusir. Itulah salah satu penyebabnya kenapa penyandang disabilitas selalu menerima hal-hal yang pahit dan tidak bisa menikmati hak yang seperti diterima oleh orang-orang normal. Kami tidak bisa tinggal diam, karena adanya UNCRPD sudah seharusnya melindungi hak penyandang disabilitas, tetapi sampai sekarang masih ada beberapa yang belum dipahami, dengan maksud adalah diskriminasi-diskriminasi yang ada belum kunjung berakhir. Itulah kenapa di kalangan masyarakat belum menyadari hak-hak penyandang disabilitas. Diskriminasi bukan hanya berarti kekerasan melainkan belum memenuhi hak-hak penyandang disabilitas karena keterbatasan aksesbilitas untuk penyandang disabilitas. Peran pemerintah sangat menentukan hak-hak disabilitas yaitu memfasilitasi untuk mengurangi beban atau memberi kesempatan untuk penyandang disabilitas agar dapat bereksperimen seperti orang-orang normal seperti mendapatkan ilmu pendidikan dengan jelas, pekerjaan dan sebagainya. Contoh pendidikan yang sering ditunjukkan sebagai penyebab menghambat kemajuan penyandang disabilitas, yaitu dalam bidang rungu tidak adanya bahasa isyarat yang dapat dipahami di sekolah bahkan berdampak ke dunia pekerjaan. Tidak hanya Tuli begitu juga penyandang disabilitas, walaupun mereka mendapatkan ilmu mereka sendiri tetapi tidak bisa melakukan praktek karena keterbatasan yang mereka miliki. Kemudian pekerjaan, sebagian besar perusahaan sedikit bahkan tidak mampu memberi slot atau kesempatan agar penyandang disabilitas bisa merasakan dunia pekerjaan, karena kemampuan dan keterbatasan penyandang disabilitas tergolong minim dan tidak bisa memenuhi persyaratan perusahaan tersebut.


 Masalah-masalah seperti itu sudah seharusnya ada jalan keluar, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Masalah tersebut terjadi karena kurangnya perhatian dan dianggap secara tidak serius dari pemerintah, seperti adanya konflik bahasa isyarat. Pemerintah tidak bisa membiarkan rakyatnya sendiri akan bingung karena konflik tersebut, maka mereka harus mengeluarkan senjata berupa solusi agar keadaan seperti itu tidak menyebabkan situasi menjadi simpang siur. Caranya adalah mengadakan konferensi untuk kaum Tuli membahas seputar bahasa isyarat, bagaimana seharusnya bahasa isyarat yang dapat digunakan oleh Orang Tuli dengan baik dan benar dan juga mengumpulkan ahli “linguistic” untuk menentukan bahasa yang digunakan. Tidak hanya sampai itu saja, pemerintah juga harus lebih memerhatikan sektor-sektor masalah yang dihadapi penyandang disabilitas lainnya, yaitu di tempat umum seharusnya diberi akses seperti di tangga terdapat “ramp” untuk tunadaksa, atau fasilitas umum menyediakan tenaga kerja/sukarelawan untuk melayani penyandang disabilitas. Kemudian pemerintah seharusnya mengadakan program penyadaran isu-isu disabilitas di kalangan masyarakat, contoh memasukkan program pelatihan bahasa isyarat sebagai kurikulum atau ekstrakurikular supaya masyarakat di usia muda dapat menyadari bahwa bahasa isyarat adalah hak Tuli, jadi mempelajari dan berkomunikasi kepada Orang Tuli dengan bahasa isyarat sudah termasuk melindungi hak-hak Tuli, dan juga bisa mengadakan program peningkatan aksesbilitas untuk penyandang disabilitas sebagai mata kuliah atau kegitan lainnya. Jika ingin mewujudkan seperti itu agar masyarakat lebih peduli kita sepertinya harus menyediakan buku paduan untuk berinteraksi dan cara menghormati untuk penyandang disabilitas kemudian dijadikan bagian buku budi pekerti atau lainnya, kalau di sekolah umum biasanya ada buku budi pekerti dan atau PKN yang berisi menghormati dan menghargai orang lain, seperti semboyan Indonesia yaitu bhinneka tunggal ika yang artinya berbeda tetapi tetap satu, kenapa tidak dengan penyandang disabilitas. Itu adalah bagian tanggung jawab dari pemerintah menurut UNCRPD. Pelaksanaan dan penerapan UNCRPD adalah tugas yang harus dijalankan oleh pemerintah agar memberi keseimbangan dan keadilan dalam hak untuk penyandang disabilitas. Jadi peran pemerintah terhadap hak-hak penyandang disabilitas sangat menentukan karier, pekerjaan bahkan kehidupan mereka di masa mendatang.

Monday, October 29, 2012

Homeschooling

Salam, saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang sering dilontarkan ke benak saya. "Surya, kenapa kamu memilih Homeschooling, sayang sekali bahwa kamu memilih keputusan seperti itu? Apa tidak rugi setelah melewati dari TK-SMP di sekolah formal, kali ini kamu mengambil kemunduran yaitu mengambil SMA di Homeschooling. Kenapa?"

Apakah itu " Homeschooling"?



Homeschooling or homeschool (also called home education or home based learning) is the education of children at home, typically by parents or by tutors, rather than in other formal settings of public or private school. Although prior to the introduction of compulsory school attendance laws, most childhood education occurred within the family or community, homeschooling in the modern sense is an alternative in developed countries to attending public or private schools. Homeschooling is a legal option for parents in many countries, allowing them to provide their children with a learning environment as an alternative to public or private schools outside the home.

Parents cite numerous reasons as motivations to homeschool their children. The three reasons that are selected by the majority of homeschooling parents in the United States are concern about the school environment, to provide religious or moral instruction, and dissatisfaction with academic instruction at public and private schools. Homeschooling may also be a factor in the choice of parenting style. Homeschooling can be an option for families living in isolated rural locations, living temporarily abroad, to allow for more traveling, while many young athletes and actors are taught at home. Homeschooling can be about mentorship and apprenticeship, where a tutor or teacher is with the child for many years and then knows the child very well.

Homeschooling can be used as a form of supplementary education, a way of helping children learn, in specific circumstances. For instance, children that attend downgraded schools can greatly benefit from homeschooling ways of learning, using the immediacy and low cost of the Internet. As a synonym to e-learning, homeschooling can be combined with traditional education and lead to better and more complete results. Homeschooling may also refer to instruction in the home under the supervision of correspondence schools or umbrella schools. In some places, an approved curriculum is legally required if children are to be home-schooled. A curriculum-free philosophy of homeschooling may be called unschooling, a term coined in 1977 by American educator and author John Holt in his magazine Growing Without Schooling. In some cases, a liberal arts education is provided using the trivium and quadrivium as the main model.

Begitu penjelasannya, itu pun dikutip dari wikipedia, saya juga ambil beberapa penjelasan dari situs Homeschooling-ku.

Homeschooling adalah sebuah system pendidikan atau pembelajaran yang diselenggarakan di rumah. Homeschooling adalah sekolah alternatif yang menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan pendekatan secara “at home”. Dengan pendekatan “at home” inilah anak-anak merasa nyaman belajar karena mereka dapat belajar apapun sesuai dengan keinginannya, kapan saja dan dimana saja seperti ia tengah berada di rumahnya. Jadi, meski disebut homeschooling, tidak berarti anak akan terus menerus belajar di rumah, tapi anak-anak dapat belajar dimana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti “at home”.

Mengerti?  

Oke saya akan menceritakan keputusan yang menurut mereka "Sayang"

Setelah lulus SMP, saya langsung melanjutkan SMA Homeschooling yang didirikan oleh Kak Seto. Kenapa saya memilih sekolah non formal? Karena waktu SMP, saya sering terganggu dalam kesehatan bahkan sampai pingsan saat itu, mungkin karena despresi, stress dan sebagainya dan juga merasa tertekan untuk menyamai level anak normal lainnya untuk penilaian dalam mata pelajaran di sekolah. Salah satu mata pelajaran kerap menyulitkan saya yaitu Inggris dan Inggris + (keterampilan), Alhamdulillah berkat teman dan guru yang baik jadi lulus. Saat itu saya membayangkan bagaimana SMA nanti? Saya merasa panik saat itu, memikirkan apa yang terjadi, ada sebuah kata terlintas di benak saya yaitu Kak Seto, nama beliau mengingatkan saya bahwa beliau memiliki sekolah yaitu Homeschooling. Kata Homeschooling pernah saya liat di TV dan di internet, awalnya saya pikir homeschooling cocok untuk anak putus sekolah ternyata bukan, Homeschooling ini untuk umum. Itulah saya tahu mengenai homeschooling setelah menulusuri info homeschooling di internet.

Sebenarnya banyak sekali homeschooling di Indonesia seperti HS milik Dewi Hughes dll. Tapi pilihan untuk melanjutkan SMA Homeschooling jatuh ke HSKS (Homeschooling Kak Seto) karena ibuku sangat kenal dan dekat dengan Kak Seto, jadi kesempatan. Awalnya sempat berbicara dengan Ibu, ditolak dan jelaskan baik-baik tentang homeschooling dan Kak Seto, tak lama kemudian, Ibuku menelpon Kak Seto. Pada esok harinya, ibuku memanggil saya bahwa saya akan masuk HS Kak Seto, disuruh datang ke HSKS Pusat yang terletak di Bintaro. Setelah sampai disana bersama orangtua, saya diwawancarai dan juga memberi hasil fotokopi ijazah SMP. Saya menceritakan alasan masuk HSKS, karena saya pernah merasakan hal-hal yang berat di SMP, bukan karena sistem, metode pengajaran, pergaulan dll. Tetapi karena aksesibilitas untuk saya sebagai Tuli tergolong minim. Metode pengajaran secara face to face itulah saya butuhkan, metode tersebut juga disediakan di HS Kak Seto. Dan sebelumnya saya merasa tidak yakin kalau bisa melanjutkan SMA sekolah formal yang metode dinilai terlalu tinggi dan mudah membuat saya tertekan.

Semenjak masuk Homeschooling Kak Seto, kehidupan saya berubah drastis yaitu lebih banyak belajar dalam hidup, bijak dalam menghadapi sesuatu dan juga belajar dari teman-teman dan orang yang lebih tua, itu sangat menguntungkan. Kemudian juga saya merasa lebih menikmati dalam belajar, Homeschooling itu bukan berarti untuk teman-teman yang malas tetapi untuk teman-teman yang ingin belajar dimana saja bisa di Mall dan sebagainya tetapi bernuansa rumah. Sayang sekali, saya hanya satu-satu Tuli di SMA Homeschooling. Mungkin ada cerita baru kalau saya memiliki teman Tuli di SMA Homeschooling. Di samping positif juga ada negatifnya yaitu tidak adanya pengajaran isyarat untuk kaum tuli. Kemudian setelah masuk homeschooling, banyak sekali menyayangkan keputusan saya seperti guru-guru dan teman-teman, kata mereka homeschooling tidak dapat ijazah, atau paket C itu tidak sesuai untuk saya karena saya tergolong mampu, tetapi Ibu mendukung penuh untuk tetap belajar di Homeschooling Kak Seto, saya juga memiliki Tutor Visit. Tutor Visit mengajari materi setiap pelajaran seperti guru tetapi sudah jadi budaya HSKS, maka saya panggil dia kakak.

Jam belajar Homeschooling ada aturan yaitu seminggu belajar maksimal 10 jam. Terserah mau belajar kapan, dimana, dan dengan siapa? Sebenarnya Homeschooling juga menyediakan 2 program yaitu Distance Learning & Komunitas (belajar dengan teman-teman untuk meningkatkan sosialisasi seperti pergaulan dan kerjasama). Kalian melihat banyak tawuran di TV kan? Kadang-kadang saya merasakan mereka seperti berada di sekolah dikelilingi neraka,  ilmuwan dulu seperti Thomas Alva Edison juga belajar menciptakan sesuatu yang baru bukan karena sekolah melainkan belajar di rumah.

Salam,
Surya Sahetapy
Status: Penulisan belum final.

Wednesday, October 24, 2012

“Maka dari keduanya, keluarlah Mutiara dan Murzan” #Repost



Tidak ada yang meragukan keindahan suara Dewi Yull. Lagu Layu Sebelum Berkembang pun terdengar lebih hidup ketika dilantunkan oleh Dewi Yull bersama almarhum Broery Marantika. Ironisnya, suara merdunya tidak mampu didengar oleh anaknya sendiri, Giscka, karena keterbatasan pendengaran yang dimilikinya. Tidak hanya Giscka, salah satu putranya yaitu Panji, juga mengalami hal serupa. Ditambah lagi, suaminya yang seharusnya mendampingi menghadapi cobaan tersebut justru meninggalkannya. Namun semua itu tidak lantas membuat ibu empat anak ini menyesali dengan apa yang telah terjadi. Sebaliknya, ia justru menganggap anak-anaknya sebagai anugerah dalam hidup. Bagaimana Dewi Yull berjuang merawat keempat anaknya seorang diri? Apa yang membuatnya bisa setabah itu? Adakah hikmah yang bisa ia petik?

Pada usianya yang masih tergolong sangat muda, Dewi Yull memutuskan untuk menikah dengan Ray Sahetapy, lawan mainnya di film ‘gadis’. Keputusannya tersebut memang cukup mengagetkan banyak pihak. Di saat karirnya sedang menanjak di dunia film maupun dunia tarik suara, Dewi Yull justru memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dan menikah dengan Ray Sahetapy. Karena perbedaan agama, orangtua Dewi Yull, tidak merestui pernikahan anaknya tersebut. Meskipun begitu, penyanyi yang sering berduet dengan almarhum Broery Marantika ini tetap melangsungkan pernikahan dengan aktor yang laris di era tahun 80-an itu. Dari pernikahannya tersebut, lahirlah Giscka Putri Agustina Sahetapy , Rama Putra Sahetapy , Panji Surya Putra Sahetapy , dan Muhammad Raya.

Penyanyi yang memiliki nama asli RA Dewi Pujiati ini memang terbukti mampu menjalani kehidupan keluarga dengan harmonis. Paling tidak selama 23 tahun ia mampu bertahan membina keluarga dengan Ray Sahetapy sebelum mengakhirinya dengan perceraian. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangatnya dalam berkarya. Puluhan album telah ia hasilkan selama berkarir di bidang tarik suara. Berbagai judul film pun telah dilakoninya. Sebut saja film ‘Gadis’, Opera Jakarta’, ‘Kembang Kertas’, Pacar Pertama’, ‘Ayu dan Ayu’, ‘Secangkir Kopi Pahit’, ‘Suami’, serta film terakhir yang sempat dilakoninya, yaitu ‘Kiamat Sudah Dekat’. Berbagai prestasi di bidang kesenian tersebut semakin melambungkan namanya. Tepatnya di era tahun 80 hingga 90-an, nama Dewi Yull menjadi salah satu nama artis serba bisa. Di balik prestasinya yang semakin menjulang, ternyata kehidupan keluarganya juga menyimpan sisi yang memilukan untuk orang sesukses Dewi .

Tidak Malu dengan Kondisi Anak. Selang beberapa waktu setelah ia menikah dengan Ray Sahetapy, wanita kelahiran Cirebon ini langsung dikaruniai anak perempuan cantik yang diberi nama Giscka Putri Agustina Sahetapy yang lahir 24 tahun silam. Kelahirannya pun disambut gembira oleh pasangan Ray dan Dewi. Akan tetapi, kegembiraan mereka sempat terganjal dengan diketahuinya kondisi kesehatan Giscka yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran alias tuna rungu. “Saya baru mengetahui kalau Giscka itu tuna rungu saat usianya 2 tahun,” kenang Dewi. Meskipun begitu, puteri pasangan HRM Soendaryo Priatman Tirto Adhi Suryo dan Masayu Devi Hetimawati ini tidak menyesali kondisi tersebut. “Buat saya, anak-anak itu anugerah yang sangat luar biasa,” ujar Dewi. Dari keempat anaknya pula, Dewi Yull mendapatkan motivasi yang sangat besar dalam membangun kehidupan yang sempat mendapatkan goncangan.

Ketika merawat Giscka, Dewi tidak pernah merasa malu dengan keadaan yang diderita oleh Giscka. Dengan ketunarunguannya, Dewi justru sering membawa puteri sulungnya tersebut ke tempat syuting. “Saya bawa kemana saja, karena saya tidak mau anak ini menjadi beban,” ujar wanita yang berparas keibuan ini. Dengan keterbukaannya terhadap lingkungan sekitar, Dewi Yull memperkenalkan Giscka ke dunia luar. Dengan begitu, Dewi berharap si anak tidak merasa minder dengan kondisi fisik tubuhnya. Sikap Dewi tersebut terbukti dengan perkembangan psikologis Giscka yang makin hari makin menunjukkan kepercayaan diri yang semakin meningkat. “Giscka mampu mandiri menjadi anak yang luar biasa dan lebih hebat dari saya,” aku Dewi. Giscka pun tumbuh menjadi sosok gadis yang memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan anak normal lainnya. Tak hanya itu, kemandiriannya pun patut diacungi jempol. Dengan ketunarunguannya, Giscka mampu menjadi gadis dengan tingkat kepercayaan diri yang mantap. Ia mampu mengikuti sikap ibunya yang tegas dalam berbagai hal. Sebagai seorang ibu, Dewi Yull bangga terhadap sang anak. Hingga menjelang pernikahannya, Dewi Yull selalu mendampingi Giscka dan memberikan dorongan moril sebagai seorang ibu. Kini, Giscka telah mampu memberikan cucu pertama bagi Dewi Yull. Kebahagiaan seorang nenek akhirnya didapatkan oleh penyanyi yang mampu mendendangkan berbagai aliran lagu ini.

Terulang pada Anak Ketiga. Selain Giscka, putera ketiganya, Panji Surya juga memiliki keterbatasan fisik. Ia juga tidak bisa mendengar sebagaimana halnya sang kakak, Giscka. Kelahiran Panji yang memiliki kekurangan fisik tersebut sempat menimbulkan berbagai pertanyaan di diri Dewi. “Kenapa tidak cukup satu?” tanya Dewi ketika Panji hadir di dunia. Akan tetapi, Dewi justru lebih mendekatkan diri pada Tuhan untuk menemukan jawabannya. Ada suatu kejadian yang mampu memberikan jawaban bagi Dewi. Untuk mengetahui jawabannya, Dewi kerap melakukan sholat malam untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dukungan ibunda juga tidak kalah pentingnya dalam memotivasi Dewi Yull dalam menghadapi kenyataaan. Sang Ibu menyarankan kepada Dewi Yull untuk lebih banyak membaca Al-Quran dan melakukan sholat malam. Alhasil, ketika di malam hari setelah sholat malam dan ia membaca Al-Quran, Dewi Yull membaca salah satu ayat di dalam Al-Quran yang isinya adalah ; “Maka dari keduanya, keluarlah mutiara dan Murzan.” “Setelah itu, saya ambruk dan menangis,” kenang Dewi Yull. Dari kejadian itu, Dewi Yull yakin bahwa anak-anaknya merupakan mutiara yang sangat berharga dalam hidupnya. Tak terkecuali dua anaknya yang mengalami kekurangan dalam hal fisik.

Semenjak kejadian di malam hari tersebut, Dewi yull lebih banyak berikhtiar dalam menjalani kehidupan. Dua anaknya yang secara fisik kurang sempurna, justru menjadi suatu bentuk kesempurnaan di mata Dewi Yull. “Sempurna itu kan ada karena adanya ketidaksempurnaan,” ujar Dewi Yull. Tanpa diliputi rasa malu, pemeran Sartika dalam sinetron ‘dokter Sartika’ ini selalu mengajak anak-anaknya ke lingkungan luar. Bahkan Giscka ketika masih berumur di bawah sembilan tahun selalu diajaknya ke lokasi syuting. “Saya selalu mengajak Giscka ke lokasi syuting Losmen, Sartika,” kenang Dewi Yull. Dengan begitu, Dewi berharap anaknya tersebut tidak merasa menjadi beban dengan adanya kekurangan fisik yang dimilikinya. Sebaliknya, Giscka justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi ketimbang anak-anak normal lainnya. Kemampuannya di bidang seni juga sangat mencengangkan berbagai pihak, termasuk ibunya sendiri, Dewi Yull. Sedangkan untuk Panji, putera ketiganya yang juga memiliki kekurangan fisik yang hampir sama dengan Giscka, memiliki kepribadian yang tidak kalah dari sang kakak. Panji mampu menorehkan prestasi yang cukup membanggakan bagi Dewi Yull. Panji yang memiliki hobi sepakbola mampu menjadi pemain futsal yang cukup bagus dengan menyandang gelar top scorer kompetisi futsal antar sekolah sejabotabek. Prestasi lainnya yang lebih membanggakan adalah diraihnya penghargaan pada hari anak internasional beberapa waktu yang lalu. Dewi pun terharu dengan berbagai prestasi yang mampu diraih oleh anak-anaknya, terutama dua anaknya yang memiliki kekurangan fisik.

Dengan diraihnya berbagai prestasi bagi anak-anaknya, Dewi Yull mampu menikmati hidup kesendiriannya setelah bercerai dengan Ray Sahetapy. Berbagai cobaan memang silih berganti menghampiri kehidupan Dewi Yull. Kehadiran dua anaknya yang memiliki kekurangan fisik memang bisa dibilang sebagai cobaan bagi Dewi. Kondisi keluarganya yang semula adem ayem, tiba-tiba harus dihiasi dengan perceraian. Tetap saja bagi Dewi, perceraian tersebut sudah menjadi ketentuan Allah. “Tidak ada yang bisa dimiliki di dunia ini, termasuk anak-anak, semua itu hanyalah titipan,” ujar penyanyi yang mengawali karier di jalur tarik suara saat memenangi lomba Pop Singer se-Jawa Barat pada tahun 1970 ini.

Bangun Kembali Perusahaannya. Setelah menjadi single parent, Dewi Yull pun kini lebih banyak mengurusi perusahaan production house-nya. Perusahaan yang diberi nama PT Giz Cipta Pratama Audiovisual ini telah berdiri sejak 15 tahun silam. Perusahaan yang berkantor di Jalan Camar I No. 1, Bintaro ini menjadi salah satu sumber pendapatan Dewi Yull untuk menghidupi keluarganya. Perusahaan tersebut juga tak luput dari kerikil-kerikil tajam yang menghantam perjalanan hidup Dewi Yull. Dua tahun pertama setelah berdiri, PH yang didirikan oleh Dewi Yull tersebut tidak mendapatkan proyek yang harus dikerjakan. Barulah setelah berjalan dua tahun lebih, perusahaan tersebut banyak mendapatkan order untuk membuat video klip, film dokumenter dan produksi sinetron. Salah satu band terkemuka di Indonesia, KLA Project pun pernah mempercayakan pembuatan salah satu video klipnya kepada perusahaan yang dimiliki oleh Dewi Yull.

Seiring dengan berjalannya waktu, PT Giz mengalami hambatan-hambatan yang mengakibatkan macetnya perkembangan perusahaan. “Selama hampir tiga tahun, perusahaan mengalami kesulitan,” kenang Dewi Yull. Tapi kesulitan tersebut lambat laun mampu diatasi oleh Dewi Yull beserta karyawan-karyawan yang ada untuk mendukungnya. Saat ini, PT Giz Cipta Pratama Audiovisual tengah menangani beberapa film dokumenter. Salah satunya adalah film dokumenter yang dibuat dari hasil kerjasama dengan Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi. Film tersebut dibuat untuk mensosialisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Selain mengurusi production house miliknya, wanita kelahiran 10 Mei 1961 ini juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia kini menjadi duta bagi organisasi Eka Tjipta Foundation. Di dalam organisasi di bawah bendera Sinar Mas Group tersebut, ia mensosialisasikan biji jarak sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat. “Biji jarak itu kan bisa menjadi pengganti minyak tanah,” ungkapnya menjelaskan kepada Realita. Dewi mengaku, dengan aktif di dalam organisasi tersebut, ia dapat menimba ilmu lebih banyak. “Biji jarak itu hasil pengembangan dari IPB (Institut Pertanian Bogor-red), jadi saya sering bertemu dengan para profesor dari IPB,” aku Dewi. Seringnya Dewi Yull bertemu dengan orang-orang akademis yang terbilang cerdas, cukup membuat Dewi Yull bahagia. Pasalnya, ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan yang sebelumnya belum pernah diketahuinya.

Tak hanya itu, Dewi Yull juga kerap mengadakan acara konsultasi dengan para orangtua yang memiliki anak dengan keterbatasan tunarungu. “Saya sering ke Cirebon untuk memberikan konsultasi bagi orangtua yang memiliki anak tunarungu,” aku Dewi. Kegiatan tersebut dilakukannya karena ia melihat banyak orangtua yang merasa malu terhadap kondisi anaknya yang memiliki kelainan daripada anak normal lainnya. Menurut Dewi, sebagai orangtua sebaiknya tidak usah malu dengan keadaan sang anak yang tunarungu. Sang anak akan merasa terbantu dengan sikap orangtua yang terbuka kepada lingkungan sekitar. Dengan begitu, pembentukan karakter si anak akan terjadi dengan sendirinya. Perkembangan mental sang anak pun akan berjalan dengan baik.

Tidak Pasang Target. Untuk hidupnya sendiri, Dewi Yull tidak pernah memiliki target tertentu untuk masa depan dirinya dan keluarga. “Saya hanya berusaha untuk bersyukur setiap hari,” ujar Dewi. Tak heran jika ia memiliki prinsip, berterimakasih pada hari kemarin dan hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. Bahkan ketika ditanya mengenai rencana ke depan, Dewi hanya menjawab, “Saya sih tidak punya rencana, yang penting kita harus berikhtiar setiap hari,” begitu ujarnya. Untuk rencana menikah kembali pun ia menyerahkannya kepada Allah. Jika memang nantinya diberikan jodoh, ia pasti akan menikah kembali. Akan tetapi, baginya yang terpenting adalah membimbing seluruh anaknya menjadi anak yang mandiri dan minimal berguna bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, selama ini, ia membebaskan keinginan dari seluruh anak-anaknya. “Saya bebaskan semua anak-anak saya, asalkan sekolahnya bener,” tutur penyanyi yang akan mengeluarkan album Shalawat menjelang Ramadhan tahun ini. Selain itu, ia juga menghormati keinginan dari sang anak karena Dewi Yull sendiri menyadari bahwa anak hanyalah titipan yang dapat diambil sewaktu-waktu oleh empunya. Oleh karena itu, ia sangat memegang arti kepercayaan bagi anak-anaknya. Dewi Yull percaya dengan adanya kepercayaan, anak-anaknya tidak akan mudah terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. “Makanya saya pernah bilang kepada anak-anak saya, jika kalian ingin cepat mamah meninggal, kamu pakai saja narkoba dan apa saja yang buruk,” tutur Dewi. Tak ayal, hingga kini anak-anaknya tidak pernah terlibat dalam hal-hal yang buruk. Sebaliknya, anak-anaknya justru dapat membuktikan kepada ibu yang sangat dicintainya tersebut bahwa mereka dapat berprestasi di dunianya masing-masing. 


Panji Mampu Menyetir Mobil di Usia 6 Tahun

Ternyata tuna rungu tidak menjadi hambatan bagi Panji, putera ketiga Dewi Yull. Hal tersebut terbukti dengan diraihnya penghargaan pada hari anak internasional beberapa waktu yang lalu. Tak hanya itu, ada suatu kejadian menarik yang pernah dialami oleh keluarga Dewi Yull. Saat itu, Panji meminta untuk diajarkan menyetir mobil. Dewi Yull sempat kaget karena waktu itu Panji baru menginjak umur 6 tahun. Tidak mungkin anak sekecil itu mampu mengendarai kendaraan beroda empat tersebut. Akan tetapi, karena Dewi Yull selalu membebaskan keinginan dari anak-anaknya, maka ia mengijinkan Panji untuk belajar menyetir mobil. Hebatnya, Panji langsung lancar menyetir mobil tanpa harus menunggu petunjuk dari sang ibu. “Waktu itu, saya sudah siap-siap memegang rem tangan, tapi akhirnya dia memang sudah lancar nyetir mobil dengan sendirinya,” tutur Dewi sembari tertawa lebar.

Cerita menarik tak hanya sampai di situ saja, pernah suatu hari Panji mengajak saudara-saudaranya yang juga masih kecil untuk naik ke atas mobil. Hyundai Atoz automatic itu disetir Panji mengelilingi komplek bersama saudara-saudaranya. Dewi Yull pun sempat merasa khawatir dengan kejadian tersebut. Tapi kekhawatiran itu tidak terbukti karena mereka selamat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Jadi waktu itu sudah nggak heran lagi kalau tetangga ngeliat mobil tapi nggak kelihatan supirnya, berarti itu anak saya yang nyetir,” ujar Dewi. Pengalaman unik lainnya pun pernah dialami bersama dengan Giscka. Dewi mengaku, ia pernah dilempar kaleng minuman ringan oleh Giscka karena tidak dituruti keinginanya untuk meminum minuman ringan tersebut. “Kepala saya sempat robek karena dilempar kaleng minuman,” kenang Dewi. Kejadian tersebut memang menjadi risikonya karena Dewi memang sedang mengajari Giscka untuk belajar mengucapkan kata-kata dengan benar. “Supaya dia bisa belajar mengucapkan kata-kata dengan jelas,” ujarnya. Kejadian-kejadian menarik itu tak hanya menjadi bumbu-bumbu yang terjadi ketika merawat anak dengan keterbatasan tunarungu. Akan tetapi, kejadian itu juga justru menambah rasa kasih sayang Dewi terhadap keempat anaknya. 



Mimpi Bertemu dengan Almarhumah Ibunda Sebelum Memakai Jilbab

Perubahan drastis memang terjadi pada tahun 1999 dalam hidup Dewi Yull. Saat itu, ia memutuskan untuk memakai jilbab. Keputusan tersebut memang cukup mengagetkan banyak pihak. Bahkan ada beberapa pihak yang memberikan peringatan agar tidak memakai jilbab karena nantinya tawaran pekerjaan akan berkurang. Meskipun begitu, ia tetap mengukuhkan hatinya untuk memakai jilbab, sebagaimana diwajibkan oleh Allah.

Sebelum memutuskan untuk memakai jilbab, ada kejadian menarik yang dialami oleh Dewi Yull. Pada suatu malam, Dewi Yull bermimpi bertemu dengan almarhumah ibunda, Masayu Devi Hetimawati. “Dia menegur saya untuk lebih dekat dengan Allah,” aku dewi. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk lebih mendekatkan diri dengan sang pencipta. Salah satu keputusan yang diambilnya adalah dengan memakai jilbab. Hingga kini, ia pun tetap menutup rambutnya dengan kain jilbab. “Jangan jilbab itu diidentikkan dengan orang suci,” ujar Dewi. Dewi yang mengaku masih berhubungan baik dengan Ray Sahetapy ini memang telah memantapkan diri untuk tetap memakai jilbab sebagai salah satu kewajibannya sebagai wanita muslimah. “Jilbab itu kan masalah hak asasi manusia, jadi kenapa harus dipertanyakan,” tutur Dewi sambil menutup pembicaraan.


Sumber: Fajar


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More